RSS

ringkasan farmakoterapi sistem syaraf

ini cuma sebagian kecil ringkasan materi F1, ringkasan ini lebih kehafalan jadi kemungkinan kalian cuma nemuin materi ataupun obat-obatan dalam jumlah sedikit.
Selain itu karena saya bukan tipe orang yang suka dan kuat menghafal jadinya catatan ini memang lebih keintinya saja, semoga sedikit ilmu ini bisa bermanfaat untuk kita semua..aamiinšŸ˜€

1. FARMAKOTERAPI NYERI
Nyeri: pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial
Patofisiologi ada 2 :
a. Lama nyeri : – akut (durasi: 7 hari, tiba”), (penyebab: luka, inflamasi, pembedahan yang bisa diikuti kecemasan & emosional)
– kronis (durasi: bisa bulan-tahun), (cth: nyeri rematik, DM neuropati, dll)
b. Asal Nyeri : – nasiseptis, stimulus langsung pada reseptor nyeri(nosiseptor) baik secara mekanik, rangsang kimia/panas
– neuropati, karena adanya cedera struktur syaraf sehigga funsi berubah, baik perifer maupun pusat
Strategi terapi
a. analisa penyebab nyeri (karakteristik, lamanya, dsb)
b. mencari skala nyerinya
c. mencegah sensibilitas reseptor nyeri dg menghambat sintesis postaglandin
d. mencegah pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri
e. mengurangi nyeri melalui pengubahan mekanisme pengubahan SSP
f. menaikkan ambang nyeri
Tatalaksana terapi
a. Farmakologi
prinsip :dilihat dai intensitas nyeri, usia pasien (geriatri, pediatri, wanita hamil)
– Nyeri ringan : NSAID/non opiat (dpt di+ adjuvan non opiat)
– Nyeri sedang : Opiat/non opiat + adjuvan
– Nyeri kuat : Opiat + non opiat + adjuvan
pemilihan obat dg komplikasi sal.cerna :
# u/ obat tidak selektif trhadap Cox-2, dpt ditmbh proton pump inhibitor (cth: omeprazole, lanzoprazole yg menghmbat pompa poduksi H+ sehingga iritasi lambung berkurang
# memilih obat selektif Cox-2 karena dengan penghambatan Cox-2 dapat mengurangi rasa nyeri tanpa menyebabkan iritasi lambung
# menggunakan NSAID dengan efek toksiknya rendah

b. Non Farmakologi
istirahat, fisioterapi, olahraga ringan, mengurangi stres (relaksasi)
Hafalan obat :
1. Gol.Non Opiat
-aspirin -ketorolak
-as. mefenamat -meloksikam
-meklofenamat -peroksikam
-ibuprofen (paling aman untuk iritasi lambung) -fenilbutazon
-naproksen -celecoxib*
-ketopofen -valdecoxib*
-indometasin -PCT (parasetamol/asetaminofen), aman untuk lambung dan BUKAN GOLONGAN NSAID
-Na.diklofenak
-K.diklofenak
keterangan:* aman u/lambung namun berbahaya u/ pasien kadiovaskuler krn meningkatkan penjendalan darah krna terhambat tromboksan
harus beusaha ngafal minimal sebanyak itu,soalnya dalam kehidupan sehai-hari nyeri itu sering ditemuinšŸ˜‰ biasa juga soal ada disuruh nyebuti tu nama obat-obatan..hhe

2. Gol.Opiat
Morfin,heroin,fentanil,kodein,pethidin,tramadol,metadon(menekan gejala putus obat pada heroin), nalokson(menekan gejala putus obat pada morfin)

2. FARMAKOTERAPI SAKIT KEPALA
akan dilanjutkan bsk :D…

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2012 in Uncategorized

 

ekstraksi minyak atsiri

ekstraksi merupakan suatu proses mengambil atau menarik senyawa yang terdapat dalam suatu bahan dengan pelarut yang sesuai. sedangkan isolasi merupakan suatu proses mengambil atau menarik senyawa yang diinginkan dari beberapa senyawa hasil ekstraksi tersebut.

Minyak atsiri merupakan zat berbau yang terdapat dalam berbagai tanaman, misalnya : daun, bunga, buah, batang atau kayu. Minyak atsiri merupakan senyawa minyak yang berasal dari bahan tumbuhan dengan beberapa sifat yaitu sangat mudah menguap bila dibiarkan diudara terbuka, memiliki bau khas seperti tumbuhan aslinya, umumnya tidak berwarna tetapi memiliki warna gelap karena mengalami oksidasi dan pendamaran. Karena sifatnya yang mudah menguap minyak atsiri sering disebut sebagai minyak menguap atau minyak eteris( 1 ).

Minyak atsiri dikenal dengan beberapa nama , yaitu : ( 1 )
a.Minyak menguap ( volatile oils )
Karena bila dibiarkan diudara terbuka mudah menguap tanpa meninggalkan bekas, juga karena mengandung senyawa atau komponen yang mudah menguap dengan komposisi dan titik didih yang berbeda.
b.Minyak essensial
Karena merupakan senyawa essential atau konstituen berbau dari tanaman penghasil.
c.Minyak eteris
Beberapa sifat minyak atsiri sebagai berikut :
a.Mudah menguap bila dibiarkan pada udara terbuka
b.Tidak larut dalam air
c.Larut dalam pelarut organik
d.Tidak berwarna, tetapi semakin lama menjadi gelap karena mengalami oksidasi dan pendamaran
e.Memiliki bau yang khas seperti pada tumbuhan aslinya

ekstraksi minyak atsiri bisa dilakukan dengan berbagai cara, misal dengan destilasi, menggunakan lemak (biasa digunakan untuk ekstraksi minyak atsiri dari bunga)
adapun ekstraksi dengan destilasi ini dibagi menjadi 3,yaitu :
1. destilasi air
Bahan yang akan disuling dihubungkan langsung dengan air mendidih atau dengan kata lain merebus tanaman secara langsung.kelebihannya adalah alatnya sederhana dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan minyak atsiri sebentar.sedangkan untuk kekurangannya destilasi air ini tidak ccok untuk bahan baku yang tidak tahan uap panas dan kualitas hasil penyulingan tidak sebaik destilasi uap-air
2. destilasi uap-air
bahan yang digunakan tidak kontak lansung dengan air namun diberi sekat antara air dan simplisia yang biasa disebut angsang.Prinsipnya air mendidih dan uap air akan membawa partikel minyak atsiri untuk dialirkan ke kondensor kemudian ke alat pemisah secara otomatis air dan minyak akan terpisah karena ada perbedaan berat jenis dimana berat jenis minyak lebih kecil dibandingkan berat jenis air sehingga minyak berada di atas dan air dibawah.kelebihan destilasi uap-air yaitu alatnya sederhana tetapi bisa menghasilkan minyak atsiri dalam jumlah yang cukup banyak sehingga efisien dalam penggunaan,minyak yang dihasilkan tidak mudah menguap karena pembawanya adalah air yang tidak mudah menguap pada suhu kamar. Sedangkan kelemahannya metode ini tidak cocok untuk minyak atsiri yang rusak oleh panas uap air, serta membutuhkan waktu destilasi yang lebih panjang untuk hasil yang lebih banyak.
3.destilasi uap
dalam bejana tersebut hanya terdapat simplisia. Prinsipnya uap air yang dihasilkan oleh steam generator akan mengalir kewadah simplisia dan membawa minyak atsiri bersama sengan uap air tesebut. Destilasi uap ini merupakan destilasi yang paling baik karena dapat menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang tinggi karena tidak bercampur dengan air.

referensi:
1. Sastrohamidjojo, Hardjono, 2004, Kimia Minyak Atsiri, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta
dan catatan KBA

untuk metode ekstraksi minyak atsiri yang lain dapat dilihat di link ini http://www.slideshare.net/murliadipalhammst/tugas-2-ppma-murliadi-palham-tikm-b

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2011 in Uncategorized

 

sedikit tentang Enterobacter sakazakii

sedikit info ne tetang E.sakazakiišŸ˜€

Jenis bakteri ini saat ini sedang naik daun semenjak adanya bayi yang terinfeksi di negara luar..
meskipun itu baru terjadi dinegara luar, namun kita juga harus waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul..
tadi aku sama temen-temen Pusat Studi-Pelayanan Informasi Obat UII melakukan kunjungan ke BPOM yogyakarta, dan saat diskusi tadi kita ada tanya-tanya tentang beberapa hal, yang kesimpulannya,diantaranya sebagai berikut :
Dari dulu susu merupakan komoditi bagian dari Badan POM, jadi memang selalu dilakukan pengawasan dan pengujian rutin..
Sebenarnya, kasus E.sakazakii itu memang sudah ada dari dulu namun belum dijadikan parameter uji sebab jumlahnya yang sangat sedikit di susu. Belakangan ini juga sudah dilakukan pengujian dan yang didapat adalah negatif(-) pada beberapa sampel susu formula..lagi pula kasus yang terinfeksi sakazakii ini hanya tercatat hanya 48 bayi sejak tahun 1961 hingga 2003, cukup jarang itu pun diluar negeri.
Namun semenjak ada putusan MK/MA(*lupa ne..hhehe) tentang E.sakazakii, bakteri ini sekarang masuk dalam parameter uji.

Sebenarnya masalah E.sakazakii ini bukan hanya pada susu formula namun bisa jadi dari lingkungannya sebab E.sakazakii ini ada dimana-mana. Infeksi ini bisa jadi karena :
* dari air yang digunakan
* Peralatan yang digunakan untuk membuat susu
* serta cara penyiapannya. Sebenarnya karakteristik dari bakteri Enterobacter Sakazakii ini mudah mati, Dengan mendidihkan air seduhan susu formula di suhu 70 derajat, bakteri tersebut dalam waktu 15 detik akan mati.

Beberapa tipe-tipe bayi yang dapat terinfeksi E.sakazakii ini juga tertentu, diantaranya :
– bayi usia 1-28 hari
– ibu kandung bayi yang mengidap HIV
– bayi lahir dengan berat bayi yang kurang

Jadi intinya masyarakat nggak usah terlalu cemas, namun juga tidak boleh lengah..kita juga harus mulai memperhatikan aspek-aspek lain bukan hanya susu formula tetapi lingkungan sekitar kita^^
oh ya, cuma mau nambahin dikit..dari pelajaran mikrobiologi farmasi, E.sakazakii ini dapat menembus selaput membran otak bayi sebab kemampuan dari selaput membran tersebut yang belum sempurna untuk menyeleksi setiap senyawa ataupun bakteri-bakteri seperti selaput membran manusia dewasa sehingga dapat menembusnya dan menginfeksinya.

mungkin ada yang mau menambahkan..hhehe, kita sama-sama belajar jadi kalau ada yang salah mohon koreksinya ^^

 
2 Comments

Posted by on March 14, 2011 in Uncategorized

 

manfaat obat herbal

herbalObat herbal tradisional meĀ­miliki keunggulan yang lebih daĀ­ripada obat biasa, karena meĀ­miliki kemampuan untuk dalam memperbaiki aktivitas biomoĀ­leĀ­kuler tubuh. Kemampuan ini ada karena tanaman obat tradiĀ­siĀ­onal dapat melakukan biosinĀ­tesis kombinasi dari senyawa metabolit sekundernya.
Obat herbal tradisional dapat meingkatkan dan memperbaiki ekspresi gen dalam tubuh. Saat ekspresi gen meningkat dan menjadi lebih baik, hormon dan sistem imun tubuh akan bekerja lebih optimal
Zaman sekarang muncul fenomena di masyarakat banyak yang kembali memakai obat ā€“ obatan alamiah/herbal yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, karena obat ā€“ obatan kimia terbukti mengakibatkan efek samping/negatif yang berbahaya bagi tubuh manusia dan hanya memperbaiki beberapa fungsi sistem tubuh. Sedangkan obat herbal tradiĀ­sional memiliki kemampuan memperbaiki keseluruhan sisĀ­tem, karena bekerja dalam lingĀ­kup sel dan molekuler.

Habbatussauda merupakan salah satu obat alami/herbal yang berasal dari tanaman Black Cumin seed(nigella sativa), dan telah lama dipakai untuk pengobatan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, sesuai kutipan dari kitab ash-shahihain : dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw,bersabda : ā€œGunakanlah Habbatussauda karena di dalamnya terdapat obat dari segala macam penyakit kecuali as-Sam(maut)ā€(terjemahan hadits shahihain riwayat bukhari,muslim)
Habbatā€˜s adalah obat yg terbuat dari habbatussauda murni tanpa campuran apapun, dan produk ini sudah terdaftar di Dinkes POM jadi tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengkonsumsinya…
Habbatussauda/Habbatā€™s mengandung fixed oils,saporins,volatile,alkalcids,amino acids,calcium,iron,sodium,potassium dan erude fibre.Khasiatnya sebagai obat rematik, pencernaan,sesak nafas/asma,jerawat,bau mulut,penyembuhan kanker, meningkatkan daya tahan tubuh,menurunkan kadar gula darah,darah tinggi,memperlancar saluran kemih.

Kehebatan obat herbal traĀ­disional bukan tanpa kendala. Regulasi pemerintah mengenai obat herbal tradisional, hingga kini masih belum ada. Selain itu, sosialisasi kepada maĀ­syaĀ­rakat mengenai penggunaan obat jenis belum merata. Ini terjadi karena sebaĀ­gian besar dokter di Indonesia masih mengĀ­gunakan obat yang terbuat dari bahan kimia dan cenderung menyepelekan obat herbal traĀ­disional, seperti jamu. Belum lagi ketidakpercayaan inĀ­dustri obat dan pasien terhaĀ­dap obat herbal tradisional, kaĀ­rena tidak adanya uji coba klinik.

Ini tentunya harus segera diatasi. Apalagi, Indonesia punya segudang potensi untuk menjadi raja di industri farmasi dan obat-obatan herbal.

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2009 in Uncategorized

 

Sekilas info

Bahan utama obat-obatan Tibet diambil dari dataran tinggi yang mencapai 3.800 meter di atas permukaan laut. Menurut data statistik, di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet terdapat 2.000 lebih jenis tumbuh-tumbuhan, sekitar 160 jenis satwa dan lebih dari 80 jenis bahan mineral yang dapat digunakan sebagai ramuan obat Tibet.
0064

Selama ribuan tahun, cara produksi obat-obatan Tibet semuanya dikerjakan dengan tangan, yaitu bahan-bahan mentah dibuat menjadi obat dengan digiling halus. Akan tetapi, cara pemrosesan ramuan obat yang demikian tidak mudah diserap oleh tubuh manusia. Kini, perusahaan farmasi Tibet menggunakan banyak teknologi produksi obat-obatan dengan cara industri modern, misalnya penggunaan air, ekstraksi alkohol, pemisahan, penyaringan dan lain sebagainya. Ini selanjutnya dapat meningkatkan lebih lanjut kadar iptek obat-obatan Tibet. Direktur Perusahaan Farmasi Daerah Otonom Tibet, Kunga Norbu mengatakan,” Pihaknya seluruhnya menginvestasi 98 juta yuan RMB, di antaranya negara memberikan tunjangan dana gratis sejumlah 10 juta RMB. Ini merupakan eksploitasi kedua kali perusahaannya dan dapat menaikkan daya saing inti obat-obatan Tibet.”

Direktur Perusahaan Farmasi Tibet, Kunga Norbu berpendapat bahwa kedokteran dan obat Tibet kalau mau berkembang harus memperbesar pemasokan terhadap inovasi iptek. Untuk itu, pabrik tersebut pada tahun 2000 telah mengintroduksi dua bengkel untuk memproduksi preparat modern yang lulus tes Good Manufacturing Practice GMP nasional. Setiap bengkel dipasang instalasi farmasi otomatis yang paling maju dalam negeri.
1181

Bersamaan dengan itu, untuk menjembatani kontradiksi antara perkembangan industri farmasi Tibet dengan kekurangan sumber daya bahan obat, pemerintah Tibet, pabrik farmasi Tibet, balai riset dan lainnya telah mengintensifkan penelitian dan pembudidayaan bahan obat Tibet. Selama bertahun-tahun, susul menyusul mendirikan basis pembudidayaan sumber bahan obat Tibet, menerapkan penanaman tumbuhan herba secara manual dan riset teknologi pembudidayaan tanaman herbal Tibet yang hampir punah. Mantan pejabat Biro Iptek Tibet, Tsedim Gyaco mengatakan, ” Dalam kurun waktu tahun 2006 hingga 2010, pemerintah setempat selama lima tahun ini telah menyusun standar tingkat nasional terhadap 200 jenis ramuan obat Tibet. Di lain pihak, mulai tahun 2005, diterapkan pembudidayaan secara manual tanaman herbal Tibet yang hampir punah, ini telah meletakkan dasar bagi perkembangan industrialisasi obat-obatan Tibet, pekerjaan tersebut telah membuahkan hasil di sebagian proyek.”

Pejabat terkait Tibet, Yang Qian mengatakan, sebagai sumber utama bahan mentah industri farmasi Tibet dan salah satu sumber obat-obatan Tibet, pemerintah Daerah Otonom Tibet selalu menjadikan industri farmasi Tibet sebagai industri soko guru dan terus mengintensifkan pemasokan di bidang-bidang kebijakan, dana dan tenaga manusia, agar obat-obatan Tibet menuju ke dunia luar. Yang Qian mengatakan, ” Obat-obatan Tibet harus memasuki barisan depan internasional, kami perlu meningkatkan lebih lanjut kesadaran inovasi iptek dan penopangan di bidang kebijakan serta menyediakan kredit diskonto kepada perusahaan.”

Selain itu, berdasarkan informasi dari Kementerian Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, penelitian teknologi kunci perkembangan modern farmasi Tiongkok dan teladannya telah dicantumkan dalam proyek titik berat program penopang iptek negara tahun 2008.

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2009 in Uncategorized

 

Farmasi

NI2C1CAVZESYVCAMU8JDCCA17SE50CAW99332CA51GS6ZCANGS0KFCA66LFSZCAJ9OLI2CA5KPOZQCA2169ERCA8Y5SNMCA9AIUX3CAFZR1Q0CAVTBBEICAZDHXEXCANN2M1ZCAD1W19OCA3IPCD6Farmasi (Inggris: pharmacy, Yunani: pharmacon, yang berarti: obat) merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma).
Farma merupakan istilah yang dipakai di tahun 1400 – 1600an.

Institusi farmasi Eropa pertama kali berdiri di Trier, Jerman, pada tahun 1241 dan tetap eksis sampai dengan sekarang.

Farmasis (apoteker) merupakan gelar profesional dengan keahlian di bidang farmasi. Farmasis biasa bertugas di institusi-institusi baik pemerintahan maupun swasta seperti badan pengawas obat/makanan, rumah sakit, industri farmasi, industri obat tradisional, apotek, dan di berbagai sarana kesehatan.

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2009 in Uncategorized

 

peran farmasis

X4K7PCAN6N55XCAXVK86BCAVYPONBCAC22TOECAD2Z9VNCAJ3TVP1CA8G56L1CARZRXWTCA5G0C9XCAUXLZSHCAKKPJ6OCAK9WHLVCAHEJKOECAI14H9RCAQBGU7ACAMSGUG1CA040E06CAJ58JWBDalam 10 tahun terakhir tantangan yang dihadapi oleh profesi farmasi cukup berat, apalagi dalam menyongsong era perdagangan bebas (AFTA 2003 dan WTO 2010). Peran profesi farmasi yang semula hanya bergerak dalam bidang packaging dan dispensing untuk obat bebas maupun obat dengan resep menjadi harus bertanggungjawab terhadap mutu komunikasi dan informasi obat kepada masyarakat serta yang lebih penting adalah bekerjasama dengan profesi dokter dan petugas kesehatan untuk meningkatkan mutu penggunaan obat di populasi.

Menurut Hepler dan Strand,24 peran farmasis yang lebih ke arah ā€œpharmaceutical careā€ terdiri atas
(1) mengidentifikasi berbagai potensi terjadinya drug-related problems (yang saat ini lebih dikenal sebagai medication error);
(2) melakukan berbagai upaya yang diperlukan saat terjadi drug-related problems; (3) mencegah terjadinya drug-related problems.

Dengan demikian maka sudah saatnyalah farmasis bekerja berdampingan dengan profesi kesehatan lainnya (dokter, perawat, dokter gigi) dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Peran farmasis di rumahsakit (farmasi klinik) tidak saja sebatas memberikan informasi dan pelayanan obat yang akurat, tetapi juga melakukan berbagai upaya untuk menjamin agar obat yang diperoleh pasien adalah yang efficacious dan aman serta digunakan secara benar sehingga mencegah risiko medication error.

Peran farmasi klinik secara komprehensif haruslah difokuskan pada upaya untuk mencegah terjadinya medication error, dengan mengembangkan sistem yang mampu mendeteksi, mencegah, mengidentifikasi, dan meminimalkan risiko medication error serta jika sudah terjadi, mampu melakukan langkah-langkah korektif yang dapat mencegah risiko kecacatan lebih lanjut dari pasien.
Farmasi klinik harus senantiasa berpikir bahwa medication error dapat terjadi setiap saat.
Adapun upaya yang dikembangkan antara lain meliputi:
-Informasi tentang diri pasien;
-Informasi obat;
-Komunikasi;
-Labeling, packaging, dan nomenklatur;
-Penyimpanan obat, stok dan distribusi;
-Penggunaan dan monitoring alat yang digunakan untuk memberikan obat (misalnya syringe pump);
-faktor lingkungan;
-pendidikan dan kompetensi staf;
-pendidikan kepada pasien; dan
-proses mutu dan manajemen risiko.

(1) Informasi tentang diri pasien
Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 18% dari efek samping obat yang serius dan sebenarnya dapat dicegah berawal dari kurangnya informasi yang memadai mengenai diri pasien sebelum obat diresepkan, diserahkan dan diminum/digunakan oleh pasien25. Informasi penting yang dimaksud antara lain adalah umur, berat badan, riwayat alergi, diagnosis, status kehamilan, hingga fungsi ginjal, hepar dan jantung. Untuk pasien rawat inap maka tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium, dan berbagai parameter lainnya seperti penyakit yang mendasari harus dipertimbangkan karena akan sangat berpengaruh untuk terjadinya medication error.

(2) Informasi obat
Leape et al 25 melaporkan bahwa lebih dari 28% efek samping obat yang dapat dicegah berkaitan langsung dengan tidak adekuatnya pemberian informasi obat kepada pasien. Secara umum kurangnya pengetahuan mengenai terapi obat merupakan penyebab tersering dari medication error. Kekeliruan dosis obat relatif paling sering dijumpai. Setidaknya sekitar separuh dari efek samping obat terjadi sebagai kombinasi dari kurangnya informasi mengenai diri pasien dan tidak adekuatnya informasi terapi obat. Informasi obat yang mutakhir dan akurat haruslah selalu tersedia dan dapat diakses oleh farmasi klinik. Akses langsung melalui internet untuk mendapatkan informasi terbaru dari berbagai sumber haruslah menjadi prioritas pengembangan yang harus segera dilakukan. Salah satu cara paling efektif untuk mendiseminasikan informasi obat secara akurat adalah melalui keberadaan farmasi klinik di unit pelayanan intensif dan darurat, yang langsung terlibat dalam proses pelayanan pasien.25

(3) Komunikasi
Miskomunikasi antara dokter, farmasis dan perawat merupakan penyebab yang paling sering dari medication error. Kegagalan dalam pemberian obat yang benar kepada pasien sering berawal dari ketidakjelasan penggunaan singkatan, akronim, dan perintah dalam resep yang ambigus yang kerapkali menimbulkan kesalahan interpretasi. Sekitar 10% bencana medication error bermuara dari masalah-masalah tersebut.25 Untuk mencegah hal tersebut haruslah dikembangkan mekanisme dan prosedur yang terstruktur setiap kali menghadapi keraguan interpretasi. Salah satu ilustrasi kasus yang pernah terjadi adalah peresepan “AZT100,” yang dapat diartikan sebagai azathioprine 100 mg maupun zidovudine (semula azidothymidine) 100 mg. Apabila penderita AIDS keliru mendapatkan immunosuppressant bukannya antiretroviral, maka kesalahan ini akan berakibat fatal.26 Obat lain yang sering dikelirukan antara lain chlorpropamide dan chlorpromazine. Penulisan resep yang tidak jelas juga menjadi sumber bencana apabila keliru penginterpretasiannya. Sebagai contoh insulin 20 U, sering keliru terbaca menjadi insulin 200 yang ini akan sangat fatal akibatnya bila terlanjut diberikan.

(4) Labeling, Packaging, and Nomenklatur
Suatu penelitian menemukan bahwa salah satu penyebab tersering dari dispensing error (29%) adalah kegagalan untuk mengidentifikasi secara benar beberapa obat yang namanya hampir sama atau kedengaran mirip satu sama lain.27 Carbatrol (Carbamezapine in U.S.) dan Carbrital (Pentobarbitone Sodium), Deseril (methysergide maleat) dan Desyrel (Trazodone) adalah sedikit dari berbagai macam obat yang hampir mirip nama dan kedengarannya. Double check, ketidaktergesaan, dan ketelitian menjadi kata kunci untuk menghindari masalah ini. Prescription mapping software mungkin diperlukan untuk membantu menata di mana obat harus diletakkan. Obat yang relatif berisiko misalnya warfarin haruslah diletakkan di tempat yang tidak terlalu mudah diakses.

(5) Penyimpanan obat, stok dan distribusi
Beberapa medication error dapat dicegah dengan membatasi ketersediaan obat dan bahan kimia berbahaya di bangsal maupun satelit farmasi. Sistem dosis unit (unit dose system) yang efektif dan komprehensif dapat meminimalkan risiko pemberian obat yang keliru secara berkelanjutan. Berikut adalah contoh permasalahan yang berkaitan dengan penyimpanan, stok dan distribusi obat:26 (1) penyimpanan obat-obat berbahaya seperti kalium klorida konsentrat di tempat obat di bangsal; (2) ketersediaan obat dalam berbagai strength secara tidak perlu; (3) penghitungan dosis, preparasi dan pencampuran obat di tingkat pelayanan pasien (bangsal); (4) ketersediaan obat di tingkat bangsal secara berlebihan dan penggunaan vial multiple-dose; (5) tidak adanya standard waktu pemberian obat dan dosing windows; (6) memberi akses kepada perawat dan petugas non farmasis ke obat.

(6) Penggunaan dan monitoring alat untuk pemberian obat
Sebelum sampai ke pasien harus dilakukan penilaian keamanan secara tepat terhadap alat untuk pemberian obat seperti misalnya infusion pump, agar saat digunakan tidak menimbulkan risiko. Setting alat juga harus dilakukan secara benar, termasuk meyakinkan bahwa petugas akan mengoperasikan secara tepat. Error dapat terjadi jika kecepatan aliran tidak dikendalikan dengan seksama, obat diberikan dalam konsentrasi yang tidak tepat, atau aliran infus sulit dibedakan dengan infus yang lainnya. Kekeliruan memberikan obat secara intrathecal bukannya intravenosa, atau intravenosa bukannya intramuskuler tidak jarang terjadi, dan hal ini dapat berakibat fatal.

(7) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan seperti kurangnya penerangan dalam ruang, tidak leluasanya tempat preparasi obat, kegaduhan, serta tingkat kesibukan pelayanan dan intensitas pekerjaan yang tinggi berperan untuk terjadinya medication errors.

(8) Pendidikan dan kompetensi staf
Pendidikan staf secara berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya medication error. Pemahaman terhadap informasi terbaru obat dan cara mempersiapkan serta memberikan dan feedback terhadap masalah-masalah medication error yang terjadi secara berkala merupakan strategi pencegahan error yang cukup signifikan. Fokus dari pendidikan dapat menyangkut hal-hal berikut:27
*obat-obat yang digunakan di rumahsakit yang termasuk dalam formularium maupun di luar formularium,
*kewaspadaan terhadap obat-obat yang sangat berpotensi menimbulkan kefatalan apabila terjadi error atau obat-obat yang pertimbangan dosis kritisnya tidak biasa; *protokol, kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat untuk memasukkan obat; dan
*medication error yang terjadi di luar sistem setempat serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan.

(9) Pendidikan kepada pasien
Pasien merupakan jalur terakhir dari proses pemberian obat. Pasien yang mampu memahami cara pemberian obat yang tepat merupakan bagian hulu dari upaya pencegahan medication error. Oleh sebab itu pasien perlu mendapat pendidikan atau penjelasan secara komprehensif mengenai obat yang diminum atau digunakan, agar tanda-tanda dini dari medication error dapat segera terdeteksi melalui kewaspadaan dari sisi pasien.

(10) Proses mutu dan manajemen risiko
Pendekatan tradisional yang berfokus pada individu praktisi, baik melalui pelatihan atau pengajaran mungkin tidak lagi signifikan. Strategi harus diutamakan pada pendekatan sistem. Reason27 memperkenalkan istilah ā€œlatent errorā€ yaitu error yang efeknya tertunda atau lambat. Latent error ini termasuk bom waktu karena munculnya kemudian. Reason menyebutkan bahwa sekitar 50-60% situasi dapat berlangsung secara keliru tanpa dapat terdeteksi oleh sistem yang ada. Hal ini disebut kegagalan laten (latent failure) yang menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem yang berlangsung. Penyederhanaan cara pemberian obat dapat mengurangi risiko medication error secara bermakna. Sistem yang sederhana yang memungkinkan dilakukannya double-checks akan secara efektif mendorong terdeteksinya error dan koreksi dapat segera dilakukan sebelum obat mencapai pasien.

 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2009 in Uncategorized